Buku Penerapan Konseling Menggunakan Model Pendekatan Psikologi
Sembilan Bab dalam buku ini
meliputi penyusunan peta kognitif yang terintegrasi dalam mata kuliah teori pendekatan
konseling. Buku ini juga disertai satu contoh kasus dari kejadian di sebuah
sekolah dengan penanganan seorang konselor. Harapannya, peta kognitif yang
disajikan dalam buku psikologi ini akan menjadi sebuah karya yang berguna pada
semua pengguna jasa konseling baik pada jurusan bimbingan dan konseling, S1
maupun program pascasarjana. Buku Penerapan Konseling Menggunakan Model
Pendekatan Psikologi ini akan membawa kita pada sembilan pendekatan.
Pendekatan Trait and Factor
Buku psikologi ini membahas bahwa
pencapaian penemuan diri menghasilkan kepuasan intrinsik dan memperkuat usaha
untuk mewujudkan diri. Asumsi perilaku bermasalah adalah individu yang tidak
mampu memahami kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sehingga individu
tersebut tidak dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal. Kepribadian
merupakan suatu sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan lainnya
seperti kecakapan, minat, sikap dan temperament adalah konsep dasar mengenai
teori ini. Hal yang mendasar bagi konseling sifat dan faktor (trait & factor) adalah asumsi bahwa
individu berusaha untuk menggunakan pemahaman diri, pengetahuan dan kecakapan
dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya. Menjadi tugas psikolog atau
konselor untuk memberitahu dan mengelola pengetahuan ini kepada pribadi yang
bersangkutan.
A. Pendekatan Humanistik
Teori ini berfokus pada kemampuan
manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat
biologis serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Manusia bertanggung jawab
terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk
mengubah sikap dan perilaku mereka. Sebagian besar buku psikologi membahas materi dan pendekatan ini. Penulis
menjelaskan bahwa melalui pendekatan ini manusia mencoba melihat kehidupan sebagaimana
pandangan mereka terhadap psikologi humanistik. Pandangan ini cenderung berpegang
pada prespektif optimistik tentang sifat alamiah manusia.
B. Pendekatan Behavior
Semua gangguan perilaku
diasumsikan sebagai akibat dari kontingensi yang kurang menguntungkan dalam
kehidupan individu, tidak perlu mengeksplorasi konflik-konflik yang
mendasarinya. Terapi yang efektif mestinya diarahkan pada modifikasi perilaku
yang saat ini dimanifestasikan oleh pasien atau klien. J B Waston adalah tokoh
signifikan dalam pendekatan ini. Sejak hadir pada tahun 1950-an, perkembangan
terapi tingkah laku ditandai oleh suatu pertumbuhan yang fenomenal. Salah satu
aspek yang paling penting dalam gerakan modifikasi tingkah laku adalah
penekanannya pada tingkah laku yang bisa didefinisikan secara operasional,
diamati, dan diukur. Bahavior memberi dorongan yang kuat kearah penyelidikan
eksprimental. Melalui buku psikologi ini disajikan pendapat dari tokoh lain yang
mendefinisikan behavior therapy (terapi tingkah laku) yaitu psikoterapi yang
berusaha mengubah pola perilaku abnormal dengan menggunakan proses extinction
(penghilangan) atau inhibitory (pembatasan) dan atausituasi-situasi klinis dan operant conditioning.
C. Pandangan Psikoanalitik
Melalui buku psikologi ini kita
akan memperoleh gambaran dan pemahaman yang utuh mengenai berbagai struktur
kepribadian. Pemahaman ini penting untuk diaplikasikan oleh semua pengguna dan
pelaksana jasa konseling. Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian
terdiri dari tiga sistem yaitu id, ego dan superego.
Id adalah sistem kepribadian yang
asli: bagaikan fitrah manusia. Kepribadian setiap orang hanya terdiri dari id
ketika dilahirkan. Id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri. Id kurang
terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Pendekatan ini bisa dianalogikan layaknya
kawah yang terus mendidih dan bergolak, Id tidak bisa menoleransi tegangan dan
bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin serta untuk mencapai
keadaan homeostatik. Kepribadian ini diatur oleh asas kesenangan yang diarahkan
pada pengurangan tegangan, penghindarari kesakitan, dan perolehan kesenangan,
id bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan untuk
memuaskan kebutuhan-kebutuhan naluriah sesuai dengar asas kesenangan. Id
memiliki kemiripan dengan kebutuhan manusia yang paling mendasar.
Ego bagaikan pengatur bagi Id,
Superego, dan dunia eksternal. Tugas utama Ego adalah mengantarai naluri-naluri
dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor.
Dengan diatur oleh kenyataan, ego berlaku realistis dan berpikir logis serta
merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan.
Superego merepresentasikan hal
yang ideal, bukan hal yang riel, dan mendorong bukan kepada kesenangan
melainkan kepada kesempurnaan. Superego adalah kode moral individu yang urusan
utamanya dari apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego
merepresentasikan nilai-nilai tradisional dan ideal-ideal masyarakat yang
diajarkan oleh orang tua kepada anak. Hal esensial lainnya dalam memahami
pandangan psikoanalitik tentang sifat manusia adalah memahami konsep kecemasan.
Kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang memotivasi kita untuk berbuat
sesuatu. Fungsinya adalah memperingatkan adanya ancaman bahaya, yakni sinyal
bagi ego untuk terus meningkat jika tindakantindakan yang layak untuk mengatasi
ancaman bahaya itu tidak diambil. Apabila tidak bisa mengendalikan kecemasan
melalui cara yang langsung, maka ego akan menagandalkan cara yang tidak
realistis. Cara ini bisa melalui tingkah laku yang berorientasi pada pertahanan
ego. Penjelasan mengenai superego ini jarang ditemukan selain pada referensi buku-buku
psikologi.
Dunia psikologi mengenal tiga
macam kecemasan, yaitu kecemasan realistis, kecemasan neurotik, dan kecemasan
moral. Kecemasan realistis adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia
eksternasl, dan taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada.
Kecemasan neurotik adalah ketakutan terhadap tidak terkendalinya naluri-naluri
yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan yang bisa mendatangkan
hukuman bagi dirinya. Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap nati nurani
sendiri. Orang yang hati nuraninya berkembang baik merasa berdosa apabila dia
melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya.
Buku ini disusun oleh seorang
dosen tetap di Wijaya Program Studi
Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Buton Sejak 2015. Rasman Sastra, Sang penulis memberikan materi
dengan susunan yang mudah dipahami. Selain melalui pendekatan-pendekatan yang
disebutkan di atas, masih banyak pendekatan lain dalam buku psikologi ini. Informasi
lebih lengkap tentang materi ini, bisa diakses melalui bukunya langsung. Buku psikologi
ini bisa dipesan langsung kepada penulis atau melalui penerbitnya.


Komentar
Posting Komentar