Buku Psikologi Jiwa Kemandirian Santri Indonesia
Buku psikologi yang ditulis seorang dosen di IAIN Syekh
NurJati Cirebon, ini alan memberikan penjelasan dan kisah mengenai jiwa mandiri
santri di Indonesia. Kemandirian peserta didik dalam konteks pendidikan sangat
penting dijadikan perhatian. Pembentukan peserta didik atau santri yang mandiri
dapat dibentuk dan dipengaruhi melalui pesantren yang memiliki karakteristik
yang kuat.
Secara deskriptif pesantren memiliki sebuah model
tertentu yang menjelaskan proses pendidikan kemandirian. Jarang sekali buku
psikologi yang menjelaskan model seperti ini, untuk itu menjadi sangat penting
untuk dikemukakan. Perlu disampaikan bahwa ada sebuah penekanan dari hasil
penelitian yang dilaksanakan dalam pembahasan melalui buku psikologi ini.
Kemandirian santri terlihat dalam kehidupan di pondok
pesantren yang berhubungan dengan bagaimana santri mandiri untuk menyelesaikan
kebutuhan dasarnya seperti makan, minum, mencuci pakaian, hingga kemandirian
dalam belajar. Kemandirian santri biasanya kurang nampak pada peserta didik
berproses di lembaga pendidikan formal atau sekolah umum karena kegiatan di
sekolah terbatas pada aktivitas belajar mengajar di kelas saja.
Berkaitan dengan kemandirian, apabila dibandingkan dengan
lembaga pendidikan formal, pondok pesantren dipandang mampu membentuk peserta
didik atau santri untuk hidup mandiri. Kemandirian ini terbukti secara nyata di
beberapa pondok pesantren terutama pada pondok pesantren yang berkategori
tradisional. Sistem asrama pada kehidupan pondok pesantren dan karakteristik
kehidupan di dalamnya mendukung peserta didik agar mampu memenuhi dan menjalani
tugas kehidupan keseharian dengan mandiri.
Isi Buku
Bagian pertama buku psikologi ini menjelaskan mengenai
konsep kemandirian yang berupa makna konsep kemandirian, ciri kemandirian,
faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian, aspek-aspek kemandirian dan
perspektif pendidikan mengenai kemandirian. Bab kedua menjelaskan tentang
pendidikan kemandirian dan pengembangannya serta aplikasinya untuk para santri.
Materi selanjutnya memberikan gambaran tentang pembentukan kemandirian. Sub bab
pendukung materi ini berupa nilai pendidikan Islam dalam pembentukan
kemandirian, nilai utama kemandirian santri serta motivasi belajar di
pesantren. Jiwa kemandirian dibahas pada bab empat dan berisi materi tentang
percaya diri, amanah dan kemampuan menguasai diri, menyelesaikan sengketa,
bertanggungjawab, peduli pada sesama, berfikiran positif dan optimis, kreatif
dan innovatif serta terampil mengelola kehidupan. Secara keseluruhan buku ini
terbagi atas empat Bab dan berfokus pada aspek kemandirian peserta didik.
Sejarah Singkat Pesantren
Pengaruh kedatangan Wali Sanga atau para penyampai pesan
agama Islam memang sampai ke seluruh Nusantara, tetapi eksistensi mereka hanya
ada di Pulau Jawa. Hasil penelitian Karel A. Steenbrink (1992) misalnya,
menyebut bahwa pesantren dibawa para wali yang menyebarkan ajaran agama Islam
di Nusantara sekitar abad XV dan XVI Masehi. Para wali ini, di Jawa
disimplikasi dan popuer dengan dengan sebutan Wali Sanga. Karena itu, jarang
ditemukan ada makam para wali di luar Pulau Jawa. Sejak para wali itulah, pesantren
telah mengukuhkan dirinya sebagai pranata dan institusi sosial sekaligus
sebagai institusi pendidikan Islam. Disebut sebagai pranata sosial, karena
pesantren telah memainkan peran idealnya sebagai lembaga sosial. Pesantren
mengakomodasi sekaligus mendistribusi kepentingan masyarakat muslim baik pada tingkat
lokal, regional, nasional dan bahkan pada tingkat internasional. Berbagai
pergulatan ide keagamaan, tumbuh melalui transformasi nilai-nilai Islam gaya
kepesantrenan, atau paling tidak, tumbuh dari lingkar kaum santri yang dididik
di pesantren. Di letak ini, pesantren tumbuh menjadi institusi penguat budaya
nasionalisme dan berfungsi menjadi penguat akar budaya di tengah masyarakat
yang heterogen. Disebut sebagai institusi pendidikan karena pesantren mempunyai
konstribusi dalam mentransformasi ilmu pengetahuan (umum dan keagamaan) kepada
masyarakat muslim. Melalui kata lain, mengutip Azyumardi Azra (1999), di tengah
kuatnya tradisi dan budaya kaum penjajah yang meminggirkan kemungkinan
masyarakat Muslim untuk terlibat dalam program-program pendidikan kolonial. Tipikalnya yang khas, beliau selalu mengambil
jarak dengan kekuasaan pemerintah (khususnya di jaman penjajahan), dengan karakter
khusus keagamaan. pesantren relatif mandiri dan tetap bertahan di tengah perkembangan zaman dan isu untuk meminggirkannya.
Kisah di atas adalah
sepenggal pesan yang disampaikan melalui sambutan salah satu tokoh pesantren,
buku psikologi pesanteren ini menyajikan sejarah pesantren secara singkat.
Secara historis, para ahli sejarah pendidikan Islam menyepakati asal usul dan
pembawa ajaran agama Islam pertama ke Nusantara.
Unik dan Efektifnya Pesantern
Tulisan dalam buku psikologi ini merupakan hasil
penelitian yang dilakukan oleh penulis. Secara spesifik, penulis menyoroti sisi
kemandirian santri di pesantren. Penelitian dilakukan di dua pesantren yang
cukup terkenal di Jawa Barat. Pesantren yang dijadikan objek penelitian adalah Pesantren
al-Istiqlal di Cianjur dan Pesantren Bahrul Ulum di Tasikmalaya.
Pesantren memiliki sisi keunikan dalam bangunan kehidupan
di dalamnya mulai dari aspek kelembagaan, sosok pimpinan pesantren (kyai), juga
kurikulum dan pembelajaran yang sedikit berbeda dengan lembaga pendidikan
sekolah. Banyak peneliti dan penulis buku yang telah mengeksplorasi berbagai
fenomena di pesantren. Ketika penelitian lain dilakukan, muncul fenomena lain
yang dapat dipetik dari kehidupan pesantren. Pondok pesantren memiliki
karakteristik yang unik dalam konteks kelembagaan pendidikan Islam.
Ketika kita menyoroti satu sudut sisi pesantren, di sana
kita menemukan sesuatu yang berharga. Pada sudut yang lain, akan muncul pula
fenomena dan sisi kehidupan lain yang unik. Almarhum Gus Dur menyebutnya dengan
istilah subkultur. Buku psikologi yang ada di hadapan pembaca ini merupakan
salah satu kajian dari sudut kehidupan santri di pesantren. Kemandirian peserta
didik dalam konteks pendidikan cukup menarik untuk diperhatikan. Kemandirian
merupakan salah satu tujuan pendidikan yang diharapkan.
Pernah ada observasi dan ulasan mengenai justifikasi
bahwa sistem pendidikan khas pesantren menyerupai bahkan menginspirasi sebuah
institusi pendidikan terbaik di negara maju untuk menerapkan sistem pendidikan.
Hal ini karena sistem dalam pesantren terbukti mencetak peserta didik yang
lebih mandiri dan mempu bertahan dalam situasi-situasi sulit. Untuk itu, buku
ini cocok digunakan sebagai bahan referensi berbagai lembaga pendidikan baik
negeri maupun swasta yang sedang berfokus untuk meiningkatkan kualitas
kemandirian peserta didiknya. Buku ini bisa Anda dapatkan langsung melalui penulis
buku psikologi ini atau bisa juga langsung melalui pnerbitnya.

Komentar
Posting Komentar